Sabtu, 30 Juli 2011

Muslim Indonesia-Ratusan Intelektual Muslim Kaji Potensi Geopolitis & Geostrategis Negara Khilafah


Hizbut Tahrir Indonesia DPD 2 Kabupaten Bogor kembali mengadakan Forum Intelektual Muslim (FIM) ke-5 dengan tema “Potensi Geopolitis dan Geostrategis Negara Khilafah” di Ruangan Papandayan Hotel Pangrango 2 Bogor, Ahad (24/07/2011). Acara yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari tokoh intelektual hingga cendekiawan. Para peserta intelektual muslim yang di antaranya bergelar professor dengan berbagai profesi keilmuannya sangat antusias mengikuti acara ini karena disuguhi pemutaran film multimedia yang menarik, mereka berkumpul untuk membicarakan potensi Geopolitis dan Geostrategis Negara Khilafah.

Di sesi selanjutnya peserta juga tampak antusias ketika mendengarkan pemaparan masing-masing dari narasumber. pembicara pertama Dr. Sumaryono, M.Sc (Peneliti Bakosurtanal) menguraikan potensi geostrategis dan geopolitis umat islam, beliau menjelaskan bahwa terdapat 5 potensi yang dimiliki umat Islam ketika tegaknya negara khilafah yaitu potensi populasi, potensi militer, potensi ekonomi, potensi geostrategis dan potensi ideologi. Negara khilafah memiliki 1,5 miliar lebih penduduk beragama Islam atau 23 % dari total populasi dunia, tingkat pertumbuhan penduduk muslim cukup tinggi jika dibandingkan penduduk Eropa & AS yang cenderung negatif. Sementara itu umat Islam memiliki 5,59 juta orang tentara aktif dan 22, 42 juta orang militer gabungan dibandingkan dengan AS yang hanya memiliki 1,47 juta tentara aktif dan 3,38 juta tentara gabungan paparnya.

Adapun dari potensi ekonomi wilayah negara khilafah mampu memproduksi beras, gandum, sereal, kacang hijau, kapas dll bahkan mengekspornya dan memenuhi 80 % pasar dunia. Modal untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan telah ada dan lebih dari cukup. Khusus bahan obat ternyata dunia sangat bergantung 90 % pada produksi opium umat Islam. Penyatuan dunia Islam di bawah khilafah akan menguasai 72,12 % cadangan minyak, 61 % cadangan gas, 22,06 % cadangan uranium dan akan menguasai cadangan emas serta bijih besi terbesar di dunia.

Selain itu negara khilafah akan memiliki kontrol penuh atas rute-rute yang paling penting dari selat Gibraltar di Moroko melewati Mediterania, Bosporus melalui terusan Suez, Samudera Hindia dan Selat Malaka. Di samping itu khilafah akan memiliki generasi-generasi terbaik yang hidup di tengah-tengah manusia sementara AS dan Eropa hanya memiliki generasi yang rusak karena pergaulan bebas, kecanduan miras dan narkoba serta terbiasa berbuat kriminal ujarnya.

Pembicara kedua, Ir. Adi Maretnas (Lajnah Tsaqofiyah DPP II HTI Bogor) mengatakan bahwa potensi tersebut akan hanya sekedar potensi bila tidak diupayakan karena itu umat islam perlu mengupayakan potensi tersebut berdasarkan perintah Allah. Dalam mengelola potensi tersebut peran intelektual muslim memiliki kedudukan yang sangat mulia bila dilandasi keilmuannya dengan keimanan dan mempergunakan ilmunya dalam rangka menghidupkan syariat Islam.

Sementara itu beliau juga menjelaskan seseorang yang pakar di bidang sains dan teknologi harus paham benar untuk apa alam semesta ini diciptakan, apa yang terkandung di dalam alam semesta ini, bagaimana mengeksplorasinya, mengelola dengan benar dan memanfaatkannya dengan amanah untuk kelangsungan hidup manusia dan merupakan jaminan untuk dapat menyelesaikan permasalahan umat sedunia. Visi ini akan terwujud secara riil, ketika pada tataran implementasinya ditopang oleh sistem yang kondusif dan mendunia yaitu sistem kehidupan yang menerapkan syariah secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah tegasnya.

Selain itu terdapat perbandingan antara intelektual muslim dan barat, dilihat dari indikator aqidah dan kepribadian, intelektual barat menganut paham sekuler-atheis bahkan komunis sedangkan Intelektual muslim beraqidah tauhid dan berkepribadian Islam, Intelektual muslim sejati tentu tidak cuma harus mumpuni secara intelektual, namun juga memiliki kedalaman iman, kepekaan nurani, kesalehan sosial dan keberanian dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta siap mati syahid dalam jihad fii sabilillah.

Namun sayangnya sistem kapitalistik telah menghancurkan peran utama para intelektual dan menjatuhkan kedudukannya sekedar sebagai agen ekonomi yang memperkuat bercokolnya para kapitalis, buktinya dalam kondisi saat ini para intelektual justru dipersiapkan untuk mempersiapkan UU yang melegitimasi sepak terjang para kapitalis untuk merampok kekayaan alam seperti UU penanaman modal, UU migas, UU ketenagalistrikan, UU sumberdaya air. Semuanya hasil karya para intelektual pesanan para kapitalis paparnya.

Karena itu beliau menyerukan kepada intelektual muslim untuk meninggalkan kapitalisme-sekulerisme dan terus menerus melakukan upaya dekonstruksi terhadap ideologi kapitalisme-sekulerisme di tengah-tengah masyarakat, karena telah nyata bahwa kapitalisme telah gagal membawa Indonesia menjadi negara yang mandiri, kuat dan terdepan.

Seruan tersebut Alhamdulillah disambut dengan baik oleh ratusan peserta intelektual muslim, mereka berharap potensi kekayaan yang dimiliki negara khilafah dapat diwujudkan secara nyata dan dirasakan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia (muslim dan non muslim). Kendati demikian dibutuhkan persatuan umat Islam untuk mewujudkannya. Acara tersebut ditutup dengan diskusi tanya jawab dan doa penutup.

0 komentar:

Poskan Komentar

Sabtu, 30 Juli 2011

Muslim Indonesia-Ratusan Intelektual Muslim Kaji Potensi Geopolitis & Geostrategis Negara Khilafah


Hizbut Tahrir Indonesia DPD 2 Kabupaten Bogor kembali mengadakan Forum Intelektual Muslim (FIM) ke-5 dengan tema “Potensi Geopolitis dan Geostrategis Negara Khilafah” di Ruangan Papandayan Hotel Pangrango 2 Bogor, Ahad (24/07/2011). Acara yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari tokoh intelektual hingga cendekiawan. Para peserta intelektual muslim yang di antaranya bergelar professor dengan berbagai profesi keilmuannya sangat antusias mengikuti acara ini karena disuguhi pemutaran film multimedia yang menarik, mereka berkumpul untuk membicarakan potensi Geopolitis dan Geostrategis Negara Khilafah.

Di sesi selanjutnya peserta juga tampak antusias ketika mendengarkan pemaparan masing-masing dari narasumber. pembicara pertama Dr. Sumaryono, M.Sc (Peneliti Bakosurtanal) menguraikan potensi geostrategis dan geopolitis umat islam, beliau menjelaskan bahwa terdapat 5 potensi yang dimiliki umat Islam ketika tegaknya negara khilafah yaitu potensi populasi, potensi militer, potensi ekonomi, potensi geostrategis dan potensi ideologi. Negara khilafah memiliki 1,5 miliar lebih penduduk beragama Islam atau 23 % dari total populasi dunia, tingkat pertumbuhan penduduk muslim cukup tinggi jika dibandingkan penduduk Eropa & AS yang cenderung negatif. Sementara itu umat Islam memiliki 5,59 juta orang tentara aktif dan 22, 42 juta orang militer gabungan dibandingkan dengan AS yang hanya memiliki 1,47 juta tentara aktif dan 3,38 juta tentara gabungan paparnya.

Adapun dari potensi ekonomi wilayah negara khilafah mampu memproduksi beras, gandum, sereal, kacang hijau, kapas dll bahkan mengekspornya dan memenuhi 80 % pasar dunia. Modal untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan telah ada dan lebih dari cukup. Khusus bahan obat ternyata dunia sangat bergantung 90 % pada produksi opium umat Islam. Penyatuan dunia Islam di bawah khilafah akan menguasai 72,12 % cadangan minyak, 61 % cadangan gas, 22,06 % cadangan uranium dan akan menguasai cadangan emas serta bijih besi terbesar di dunia.

Selain itu negara khilafah akan memiliki kontrol penuh atas rute-rute yang paling penting dari selat Gibraltar di Moroko melewati Mediterania, Bosporus melalui terusan Suez, Samudera Hindia dan Selat Malaka. Di samping itu khilafah akan memiliki generasi-generasi terbaik yang hidup di tengah-tengah manusia sementara AS dan Eropa hanya memiliki generasi yang rusak karena pergaulan bebas, kecanduan miras dan narkoba serta terbiasa berbuat kriminal ujarnya.

Pembicara kedua, Ir. Adi Maretnas (Lajnah Tsaqofiyah DPP II HTI Bogor) mengatakan bahwa potensi tersebut akan hanya sekedar potensi bila tidak diupayakan karena itu umat islam perlu mengupayakan potensi tersebut berdasarkan perintah Allah. Dalam mengelola potensi tersebut peran intelektual muslim memiliki kedudukan yang sangat mulia bila dilandasi keilmuannya dengan keimanan dan mempergunakan ilmunya dalam rangka menghidupkan syariat Islam.

Sementara itu beliau juga menjelaskan seseorang yang pakar di bidang sains dan teknologi harus paham benar untuk apa alam semesta ini diciptakan, apa yang terkandung di dalam alam semesta ini, bagaimana mengeksplorasinya, mengelola dengan benar dan memanfaatkannya dengan amanah untuk kelangsungan hidup manusia dan merupakan jaminan untuk dapat menyelesaikan permasalahan umat sedunia. Visi ini akan terwujud secara riil, ketika pada tataran implementasinya ditopang oleh sistem yang kondusif dan mendunia yaitu sistem kehidupan yang menerapkan syariah secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah tegasnya.

Selain itu terdapat perbandingan antara intelektual muslim dan barat, dilihat dari indikator aqidah dan kepribadian, intelektual barat menganut paham sekuler-atheis bahkan komunis sedangkan Intelektual muslim beraqidah tauhid dan berkepribadian Islam, Intelektual muslim sejati tentu tidak cuma harus mumpuni secara intelektual, namun juga memiliki kedalaman iman, kepekaan nurani, kesalehan sosial dan keberanian dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta siap mati syahid dalam jihad fii sabilillah.

Namun sayangnya sistem kapitalistik telah menghancurkan peran utama para intelektual dan menjatuhkan kedudukannya sekedar sebagai agen ekonomi yang memperkuat bercokolnya para kapitalis, buktinya dalam kondisi saat ini para intelektual justru dipersiapkan untuk mempersiapkan UU yang melegitimasi sepak terjang para kapitalis untuk merampok kekayaan alam seperti UU penanaman modal, UU migas, UU ketenagalistrikan, UU sumberdaya air. Semuanya hasil karya para intelektual pesanan para kapitalis paparnya.

Karena itu beliau menyerukan kepada intelektual muslim untuk meninggalkan kapitalisme-sekulerisme dan terus menerus melakukan upaya dekonstruksi terhadap ideologi kapitalisme-sekulerisme di tengah-tengah masyarakat, karena telah nyata bahwa kapitalisme telah gagal membawa Indonesia menjadi negara yang mandiri, kuat dan terdepan.

Seruan tersebut Alhamdulillah disambut dengan baik oleh ratusan peserta intelektual muslim, mereka berharap potensi kekayaan yang dimiliki negara khilafah dapat diwujudkan secara nyata dan dirasakan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia (muslim dan non muslim). Kendati demikian dibutuhkan persatuan umat Islam untuk mewujudkannya. Acara tersebut ditutup dengan diskusi tanya jawab dan doa penutup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut

Popular Posts

sponsorbanner

 
© Copyright 2010-2011 Khilafah Islam Indonesia All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.